Jakarta, (Tagar 25/6/2018) - Hasil awal memperlihatkan presiden petahana Turki Recep Tayyip Erdogan meraih 52,7 persen suara dalam pemilihan presiden setelah 96,5 persen suara dihitung menurut laporan kantor berita Turki, Anadolu, Minggu (24/6). Pesaing utama Erdogan dalam pemilihan presiden, Muharrem Ince dari kubu utama oposisi Partai Rakyat Republik, mengantungi 30,7 persen suara.

Pengamat Politik Timur Tengah dari Universitas Indonesia (UI) Syahrul Hidayat menilai, faktor kemenangan Erdogan terpilih sebagai presiden Turki karena faktor religius dan nasionalis. Menurutnya, tekad sang presiden ingin mengembalikan kejayaan Turki.

"Erdogan ingin membawa pemerintahan Turki menjadi efektif dan kuat. Dia ingin bersikap keras terhadap yang menggangu kejayaan Turki. Kelompok-kelompok yang tidak suka dengan Turki akan ditindak tegas," ujar Syahrul saat dihubungi Tagar, Senin (25/6).

Syahrul menilai, Erdogan mendapat banyak dukungan suara dari umat Islam karena mewakili emosi umat Islam melalui mengembalikan kebiasaan lama yaitu pengajaran Al Quran dan Hadits di sekolah-sekolah negeri di Turki yang sudah lama dihilangkan, dan kebebasan berhijab di kampus-kampus di Turki. Erdogan juga dianggap sangat membela Palestina, menerima pengungsi dari Suriah.

"Dia populer di kalangan perempuan karena dianggap sebagai pembebas.
Erdogan telah meghapuskan peraturan bahwa peraturan yang berjilbab tidak boleh kuliah. siapa pun boleh berkuliah berhijab maupun tidak berhijab," kata Syahrul

Selain itu, faktor pendukung lainnya, Erdogan dipercaya masyarakatnya sebagai pemimpin populer yang berkualitas. Sebab, Erdogan sudah membangun reputasi memberikan apa yang diharapkan oleh masyarakat sejak awal sebagai wali kota di Kota Istanbul Turki 27 Maret 1994.

Syahrul menilai, keberhasilannya dalam merancang tata kota Istanbul yang nyaman dan modern membuat ia semakin terkenal apalagi ketika ia berhasil memerangi masalah umum di ibukota seperti berhasil mengurangi pengangguran, memberikan air bersih bagi warga Istanbul. Pengurangan kadar polusi kota, memerangi prostitusi, pengurangan kadar polusi melalui aksi penanaman ribuan pohon di Istanbul, serta pelarangan minum minuman keras di tempat umum sehingga menjadikan Erdogan semakin populer di mata masyarakat.

"Sehingga masyarakat memberikan apresiasi yang sangat baik. Transportasi dia benahi dengan membuat sistem tiket yang mengikuti kota-kota model di Eropa. Kemudian soal air dulunya kekurangan air di Istanbul sekarang model air seperti di Eropa bBrat sehingga tidak lagi kekurangan pada musim kemarau. Air kran di Turki pun bisa langsung diminum," kata Syahrul

Lebih lanjut, dari sisi ekonomi, Erdogan sejak menjabat sebagai perdana menteri pada 15 Maret 2003, dianggap telah berhasil menjadikan ekonomi Turki menjadi stabil. Ia menurunkan inflasi dan dapat mengendalikan hutang luar negerinya. Bahkan Erdogan berhasil membuat nilai tukar mata uang Turki naik beberapa kali lipat di masa pemerintahannya.

"Dia berhasil menjadikan ekonomi Turki semakin baik," ucap Syahrul.

Dengan alasan itu, kata dia, sepak terjangnya membuat namanya semakin melambung sebagai salah satu pemimpin terbaik dunia dan patut diapresiasi masyarakatnya.

Seperti dilaporkan Reuters, Erdogan, yang sangat populer tetapi juga pemimpin yang memecah dalam sejarah Turki modern, berpendapat kekuasaan-kekuasaan baru akan lebih baik memungkinkannya menangani masalah-masalah ekonomi bangsa dan menangani pemberontakan etnis Kurdi di bagian tenggara Turki dan di negara tetangganya Irak dan Suriah.

Erdogan mengatakan, negaranya telah memberikan pelajaran demokrasi kepada dunia, saat mengklaim memenangi pemilu presiden dan parlemen.

"Turki telah memberikan pelajaran berharga kepada dunia dengan tingkat partisipasi pemilu yang hampir 90 persen," kata dia seperti dikutip Antara.

Dia menyerukan kepada semua orang untuk melupakan semua perseteruan saat kampanye untuk fokus pada masa depan negara Turki.

"Bangsa kami telah memberikan amanah kepada saya untuk meneruskan kepresidenan dan wewenang eksekutif," kata Erdogan kepada para wartawan di Istanbul, dengan mengutip hasil sementara yang akan membuat dia menjadi pemimpin Turki pertama yang memperoleh kewenangan besar baru sesuai hasil referendum 2017. (ant/reuters/rmt)