Chiang Rai, (Tagar 10/7/2018) – Regu penyelamat memulai langkah ketiga untuk membebaskan lima sisa korban. Delapan remaja laki-laki yang diselamatkan dari gugus gua Thailand dalam keadaan sehat. Beberapa di antaranya meminta roti cokelat untuk sarapan pada Selasa (10/7).

"Saat ini, tidak ada keadaan mengkhawatirkan. Semua orang aman," kata Jesada Chokdamrongsuk, Sekretaris Tetap Kementerian Kesehatan Thailand.

Jesada kepada mengungkapkan, dua remaja laki-laki diduga mengalami infeksi paru-paru. Empat lagi dari kelompok pertama, yang diselamatkan, nampak sehat.

"Anak-anak tersebut adalah pemain sepak bola, yang kuat dan memiliki kekebalan tinggi," kata Jesada ketika ditanya mengapa mereka bertahan begitu lama.

Tim Sepakbola Terjebak di GuaSebuah papan memperlihatkan "Selamat datang di rumah, anak-anak" terlihat setelah usaha penyelamatan sudah dimulai untuk 12 murid dan pelatih sepakbola mereka yang terjebak di gua Tham Luang, di Chiang Rai, Thailand, Senin (9/7). (Foto: Ant/REUTERS/Tyrone Siu)

Seperti dilansir Antara, anak-anak tersebut memiliki nafsu makan baik, tetapi kebanyakan diberi makanan hambar dan mudah dicerna. Dokter kemudian mengalah setelah beberapa meminta roti cokelat.

Mereka masih dikarantina untuk menjalani tes. Empat remaja lain dibawa dengan tandu di luar gua Tham Luang di perbatasan Myanmar, Senin (9/7) petang, menjadikan delapan orang dikeluarkan sejauh ini setelah dua kali penyelamatan berturut-turut.

Kepala operasi, Narongsak Osottanakorn mengatakan, operasi terakhir "lebih menantang" karena satu lagi penyintas akan dibawa keluar dari dua operasi sebelumnya.

Penyelamat belajar dari pengalaman dan mereka bekerja dua jam lebih cepat dalam membawa yang selamat dari gelombang kedua. Hujan musiman, yang deras terus menerus, mengancam merembes melalui dinding gua batu kapur, yang membanjiri terowongan.

"Saya harap hari ini kita akan lebih cepat atau dengan kecepatan yang sama seperti kemarin," kata Narongsak.

Regu ahli penyelam asing dan SEAL Angkatan Laut Thailand memandu anak-anak itu selama sembilan jam operasi melalui hampir empat kilometer saluran, yang kadang terendam, gelap gulita, dari tempat mereka terperangkap selama lebih dari dua minggu.

Terperangkap

Sebelumnya, empat dari 12 anak sekolah Thailand diselamatkan dari gua banjir pada Ahad dalam operasi penyelamatan anak-anak dan pelatih sepak bola yang terperangkap di bawah tanah selama lebih dari dua minggu.

Tim Sepakbola Terjebak di GuaAnak lelaki anggota tim sepakbola U-16 yang terjebak di dalam gua Tham Luang menyambut anggota tim penyelamat Thailand di Chiang Rai, Thailand, dalam gambar video tanggal 3 Juli 2018 yang diambil oleh Angkatan Laut Thailand. (Foto: Ant/Thai Navy Seal/Handout via REUTERS)

Operasi yang berani dan berbahaya untuk menyelamatkan delapan anak laki-laki yang tersisa --beberapa di antaranya berusia 11 tahun dan tak pandai berenang-- serta pelatihnya, dihentikan pada malam hari hingga Senin.

Hal itu dilakukan untuk memberi para penyelam waktu mengisi pasokan oksigen dan memastikan semua persiapan telah selesai.

Tiga belas penyelam asing dan lima anggota unit angkatan laut elit Thailand SEAL memandu anak-anak itu ke tempat yang aman melalui lorong-lorong sempit yang terendam, yang merenggut nyawa seorang mantan penyelam angkatan laut Thailand pada Jumat.

"Hari ini adalah hari terbaik, situasi terbaik dalam hal cuaca, kesehatan anak-anak, manajemen air kami untuk upaya penyelamatan kami," kata Kepala Operasi Penyelamatan, Narongsak Osottanakorn.

"Hari ini kami berhasil menyelamatkan dan mengirim kembali empat anak ke Rumah Sakit Chiang Rai Prachanukrua dengan selamat," ujarnya.

Tim penyelamat membutuhkan setidaknya sepuluh jam untuk mempersiapkan operasi mereka berikutnya, yang melibatkan sekitar 90 penyelam secara total, 50 di antaranya dari luar negeri.
Sebuah helikopter menerbangkan empat anak laki-laki itu ke kota terdekat, Chiang Rai, di mana mereka dibawa dengan ambulans ke rumah sakit.

Cobaan mereka telah menarik perhatian media besar di Thailand dan luar negeri, dan membawa anak-anak itu keluar dengan selamat dapat menjadi sebuah dorongan bagi junta Thailand menjelang pemilihan umum tahun depan.

"Hari ini adalah Hari-H," kata Narongsak.

Hujan monsun lebat membasahi area Gua Tham Luang di wilayah utara Provinsi Chiang Rai pada Minggu dan badai diperkirakan datang dalam beberapa minggu mendatang, meningkatkan risiko dalam apa yang disebut "perang dengan air dan waktu" untuk menyelamatkan tim sepakbola remaja tersebut.

Anak-anak itu hilang dengan pelatih berusia 25 tahun setelah latihan sepakbola pada 23 Juni, berangkat bertualang untuk menjelajahi kompleks gua di dekat perbatasan dengan Myanmar dan merayakan ulang tahun anak laki-laki itu.

Tim penyelamat melakukan latihan untuk rencana penyelamatan itu selama beberapa hari, dan berhasil menguras air di gua, tetapi harus bergerak cepat.

Berbahaya

Tugas berbahaya untuk menyelamatkan 12 bocah Thailand dan seorang pelatih sepakbola, dimulai pada Minggu. Sebanyak 13 penyelam asing dan lima anggota pasukan khusus Thailand berupaya membawa anak-anak itu melalui jalur sempit tergenang air, yang menewaskan satu anggota pasukan khusus setempat.

Narongsak Osottanakorn, kepala penyelamatan mengatakan, satu di antara anak-anak itu, yang telah menghabiskan 15 hari di dalam gua yang terendam air hujan sedalam empat kilometer dari mulut gua, bisa diselamatkan pada pukul 09.00 waktu setempat (sama dengan waktu Indonsia barat).

Hujan deras telah membanjiri Gua Tham Luang di wilayah utara Provinsi Chiang Rai pada Minggu dan badai diperkirakan akan terus berdatangan pada beberapa pekan ke depan, sehingga risiko yang dihadapi anak-anak semakin besar.

"Jika kami terus menunggu dan hujan datang dalam waktu beberapa hari, maka kami akan kembali harus memompa air dan kesiapan kami turun," kata Narongsak.

Pejabat mengatakan, butuh waktu 11 jam pulang pergi dari mulut gua ke tempat para korban ditemukan oleh penyelam asal Inggris, Richard Stanton dan John Volanthen pada Senin lalu.

"Mengingat rumitnya jaringan gua dan sulitnya operasi ini, kami tidak bisa memastikan berapa banyak anak yang akan keluar dalam misi pertama," kata tim penyelamat.

Anak laki-laki itu, dan pelatih mereka, ditemukan di satu tebing kecil sekitar empat kilometer dari pintu masuk gua ketika pencarian memasuki hari kesembilan pada 2 Juli.

Lebih dari 1.000 petugas pertolongan dari seluruh dunia bergabung dalam operasi itu. Gubernur Chiang Rai mengatakan tim pertolongan menemukan sebanyak 100 lorong di gunung, tapi tak ada hubungan ke gua utama tempat anak laki-laki tersebut ditemukan.

Jarak dua kilometer dari tempat anak laki-laki itu ditemukan ke pusat komando keamanan di dalam gua telah terendam air sehingga tim pertolongan harus menyelam untuk mengeluarkan mereka.

Mengajari anak laki-laki tersebut, yang sebagian bukan penyelam yang kuat, untuk melewati jalur sempit dan gelap yang kadang-kala sepanjang kurang dari 70 meter, telah menantang sebagian penyelam gua kenamaan di dunia.

Awan gelap musim hujan menyelimuti pegunungan di bagian utara negeri itu pada Ahad pagi.
Karena oksigen mulai tipis di dalam gua dan daerah tersebut menghadapi hujan lagi yang berarti air banjir berpotensi menenggelamkan gua itu, petugas pertolongan masih dalam berada dalam "perang melawan air dan waktu".

Pesan harapan tiba sehari setelah kematian penyelam penyelamat Thailand, yang menjadi kebalikan dari momen dua minggu lalu saat salah satu ulang tahun anak laki-laki yang ada di kompleks gua Tham Luang di Provinsi Chiang Rai, di bagian utara Thailand, merayakan ulang tahun.

Sebuah tim Angkatan Laut Thailand, tentara, polisi dan relawan bekerja keras untuk menguras gua sejak kelompok itu ditemukan pada Senin. Mereka mengajarkan kepada anak-anak, yang berusia antara 11 dan 16 dan tidak semuanya adalah perenang yang kuat, penyelaman berbahaya melalui terowongan yang sempit dan terendam.

"Tiga atau empat hari ke depan dari sekarang adalah waktu terbaik dan paling ideal untuk operasi penyelamatan," kata Narongsak Osottanakorn.

"Situasi saat ini, dengan tingkat udara dan air dan kesehatan anak laki-laki, adalah yang terbaik," tambahnya.

"Kami masih berperang dengan air dan waktu. Penemuan ... itu hanya kemenangan kecil, tapi itu tidak berarti perang telah berakhir sampai kami memenangi tiga pertempuran: penemuan, penyelamatan, dan kembali ke rumah," ujarnya.

Dalam perkembangan lain pada Sabtu, pihak berwenang mengonfirmasi bahwa anak-anak itu telah berkomunikasi melalui surat dengan keluarga mereka. Banyak dari mereka yang berkemah di luar pintu masuk gua, untuk pertama kali sejak mereka ditemukan.

Upaya untuk mengirimkan telepon ke anak laki-laki pada awal minggu gagal.

Dalam satu surat, anak laki-laki membuat daftar makanan yang ingin mereka makan saat mereka tiba dengan selamat di rumah, seperti ayam goreng dan "barbekyu pinggan panas" serta meminta guru mereka untuk tidak menugaskan terlalu banyak pekerjaan rumah.

Pelatih, Ekapol Chanthawong, mengatakan kepada orangtua dalam surat terpisah bahwa dia akan "mengurus dengan baik" anak-anak itu dan meminta maaf karena membuat mereka menghadapi cobaan. (yps)